For more information please contact us: Artayasa Art Studio Jalan Raya Kerta No 99X Payangan - Gianyar - Bali Ph. +62 361 790 4001 Mobile +62 81 239 74 001 Email: Info [at] Artayasa.Com |
![]() ![]() WHAT OTHERS SAYDari Ubud, Lihat Wajah Indonesia Pameran Lukisan Wajah Tiga Rupa (Asti Musman, reporter radio & penikmat seni, published on Bali Post 7 April 2002) Suatu saat, pada kwartal terakhir tahun 1949, pelukis Basuki Resobowo menulis sepucuk surat kepada pelukis Oesman Effendi, "Keindahan Indonesia tidak usah ditujukan atau didasarkan kepada yang lama (tinggalan-tinggalan semacam arca-arca, golek atau wayang beber dan lain-lain)". Bentuk seni lukis Indonesia sekarang, menurut hemat Basuki, diwujudkan oleh suasana aliran-aliran pikiran dan masalah-masalah sosial yang berkumandang di seluruh Indonesia pada masa ini. Hasil seni adalah pernyataan hidup pada masanya ("Dua Seni Rupa", Sanento Yuliman). RESPONS karya lukisan atas peristiwa di zaman ini memang banyak dilakukan seniman. Kali ini giliran pelukis I Made Artayasa, I Gede Sukana Kariana dan I Nyoman Loka Suara mengeksposenya di Galeri Sembilan, Lodtunduh, Ubud, 30 Maret s.d. 30 April 2002. Tajuk pameran yang dipilih "Wajah Tiga Rupa", menurut peserta pameran, memang sesuai dengan karya mereka. Meski begitu, mereka mengaku karya yang ditampilkan bukan sengaja dibuat berdasarkan tema. Tampilan karya merupakan ekspresi kebebasan jiwa sang seniman untuk memilih apa yang digarap di atas kanvas. Jadi, ketika yang tampil adalah lukisan bergaya hampir seragam dalam arti menampilkan figur, maka hal itu hanyalah kebetulan. I Nyoman Loka Suara dalam pameran yang dibuka Presiden Junior Chamber International (JCI)Lom Bali, Nyoman Mudita, SE, ini, menampilkan dekonstruksi wajah-wajah para "master" lewat lukisan yang berjudul "Master I", "Master II" dan "Master III". Secara berurutan ia menyebut bahwa "master' yang dimaksud adalah Ida Bagus Oka, tokoh persilatan Shaolin, dan Osama Bin Laden. Maka penikmat lukisan pun dibawa untuk berimajinasi atas tokoh-tokoh itu. "Barangkali mereka yang menyebabkan kekacauan di masyarakat," prediksi Suara berdasarkan kabar dari media massa yang dipantaunya akhir-akhir ini. "Mungkin para master itu yang menyebabkan penderitaan rakyat," tambah alumnus STSI Denpasar ini. Ungkapan keprihatinannya ditampilkan dalam lukisan "Kelesuan" yang menggambarkan sosok bertubuh kurus kering. Menurut pelukis yang lahir di Denpasar tahun 1971 ini, inspirasinya berawal dari perjalanannya di daerah Karangasem yang ternyata masih menyisakan orang-orang yang kelaparan di pulau yang penuh dengan gemerlap pariwisata. Suara juga berusaha menyindir para pejabat atau siapapun yang merasa dermawan, namun hanya menyumbang mie instant untuk para korban bencana alam lewat karya yang bertajuk "Makan Mie Goreng". Lukisan yang menampilkan sosok wajah memelas itu nampak asyik makan mie goreng dengan latar belakang warna oker. "Saya merasa prihatin dengan sumbangan para donatur pada para korban bencana alam. Sumbangan mereka tidak sepadan dengan penderitaan rakyat," ungkap Suara. Maksudnya, mie instant penting, namun tindak lanjut kongkrit agar tidak terulang bencana itu jauh lebih penting. Sementara itu, Made Artayasa lebih banyak bermain di wilayah simbolis. Walaupun demikian karyanya masih memiliki kaitan tema dengan dua pelukis yang menggelar karya dalam pameran yang sama. Misalnya, lukisan "Jantung Hitam" menyiratkan misteri yang patut ditelusuri siapa pun. Melihat lukisan itu, penikmat lukisan bisa terseret dalam imajinasi watak buruk seseorang yang mampu memporakporandakan kehidupan rakyat. Imajinasi itu dipertegas dengan warna-warna lukisan yang nampak muram seperti abu-abu, hijau tua atau coklat tua.Di bagian lain, Gede Sukana Ariana turut mengolah figur di atas kanvas. Namun secara visual ia menyajikan sosok-sosok perempuan penuh gairah dengan busana yang tidak nampak rapi menutupi tubuhnya. Contohnya pada lukisan "Tergoda dalam Merah" dan "Pamer Keindahan". Walaupun bukan lukisan realis, namun indra penglihatan mampu menangkap lekuk tubuh makhluk hawa dengan gerakan erotis. Barangkali, sang seniman sengaja tampil dengan gairah purba di tengah keprihatinan atas ulah para tokoh yang mengacaukan pikiran rakyat. "Saya pikir lebih baik saya membiarkan suasana hati saya mengalir di atas kanvas. Jika orang menuntut jati diri, saya kira kesetiaan untuk suntuk di dunia kesenian adalah cara yang paling awal untuk menandai seorang seniman itu beridentitas," begitu ungkapan Sukana. Barangkali terlalu dini berharap melihat Indonesia dari karya pameran di Ubud kali ini, namun setidaknya respons atas lingkungan cukup tercerap dalam pikiran pelukis dan goresan karya di atas kanvas. Sebab melihat lukisan, kata pelukis Basuki Resobowo, adalah meminta tenaga visual. Artinya dengan melalui bentuk, garis dan warna, bangkit rasa kita akan sesuatu soal dengan tidak usah memikirkan terlebih dahulu bentuk apa yang dimaksudkan. Walaupun begitu, para pelukis yang berpameran di Ubud kali ini mampu merambah wilayah di luar dirinya yang carut marut dengan kasus sosial politik untuk ditampilkam di atas kanvas. Other Articles:- Magical Nuance on the Combination of the Past and Present- Examining Teja and Artayasa's existential painting - Teja and Artayasa's Existensial Void - Social and Development Instability - Bagaimanakah Wajah Senirupa Kita Kini? - Dari Ubud, Lihat Wajah Inndonesia Copyright Artayasa 2008. All rights reserved. Designed and maintained by Balibagus.com
|