For more information please contact us: Artayasa Art Studio Jalan Raya Kerta No 99X Payangan - Gianyar - Bali Ph. +62 361 790 4001 Mobile +62 81 239 74 001 Email: Info [at] Artayasa.Com |
![]() ![]() WHAT OTHERS SAYBagaimana Wajah Senirupa Kita Kini? Oleh SUNARYONO BASUKI KS (Penulis adalah pengamat seni, tinggal di Singaraja, Published on Sinar Harapan 26 April 2002) Bukan saja pegawai negeri yang wajib berseragam. Tampaknya, para pelukis muda pun "memaksa diri" untuk berseragam dalam karyanya. Kecenderungan umum di antara karya para pelukis muda adalah menyeragamkan gaya melukisnya, menuruti gaya para senior yang mereka tahu karyanya laku keras di pasar, mungkin tanpa menyadari bahwa sebenarnya demikian banyak gaya yang telah dijalani para senior yang lebih dulu berkarya. Affandi menapaki jalannya sendiri. Bahkan, puterinya, Kartika Affandi, berjuang keras untuk lepas dari bayang-bayang kebesaran ayahnya. Sudjojono yang juga sangat senior pun punya jalan sendiri. Selanjutnya, banyak nama yang masih dapat dideretkan. Mau mengikuti Basuki Abdullah? Tentu para pelukis muda akan berpikir sepuluh kali lipat dan berkilah bahwa gaya melukis pelukis senior itu sudah ditinggalkan orang. Itukah alasan sesungguhnya? Mungkin tidak sepenuhnya benar. Untuk menjadi seorang Basuki Abdulah, seorang pelukis muda harus sangat tekun menggeluti teknik realis manis sebagaimana dijalankan oleh pelukis yang sudah almarhum itu. Cuma satu atau dua perkecualian yang muncul, misalnya Sura Ardhana yang suka melukis potret, yang mungkin ditertawakan oleh orang lain. Toh, dia tetap menekuni wilayah ini tanpa peduli.
Mau meniru Chusin Setiadikara? Berapa tahun yang diperlukan untuk menjadi sekedar peniru Chusin, yang melambungkan super realis di Indonesia, dan mungkin cuma dia satu-satunya pelukis yang sangat tekun dengan gaya ini, walaupun terkadang dia juga melukis dengan gaya abstrak. Apalagi kalau sempat melihat Chusin melukis dengan tongkat dari kejauhan, pasti mereka akan mundur teratur.
Yang paling banyak dianut justru gaya abstrak yang memberi ruang keleluasaan bagi para pelukis muda untuk berkarya sambil menenggelamkan kelemahan-kelemahan teknis dasar dalam melukis. Tentu banyak pelukis muda yang tidak percaya akan prinsip pokok: mula-mula keterampilan dasar, barulah eksperimen. Mereka lebih cenderung melakukan eksperimen tanpa merasa wajib menguasai keterampilan dasar seorang pelukis: menguasai garis, bentuk dan warna lalu dengan leluasa dapat mengeksploitasi unsur-unsur itu dalam karyanya. Pasti mustahil menghasilkan karya baru tanpa menguasai yang standar.
Kecenderungan memilih daya abstrak ini juga tampak dalam karya-karya tiga pelukis muda lulusan Jurusan Seni Rupa STSI Denpasar, yakni I Made Artayasa, I Gede Sukana Kariana, dan I Nyoman Loka Suara. Mereka menggelar lukisan dalam pameran bertajuk Wajah Tiga Rupa di galeri Sembilan, Ubud, Bali, 30 Maret - 30 April 2002. Hampir seluruh lukisan mereka bergaya abstrak, termasuk yang menggunakan figur-figur manusia masih menampakkan unsur abstraknya. Walaupun, menurut Wayan Suardika dalam katalog pameran ini, mereka mengedepankan hasil perenungan tentang manusia, lewat wajah-wajah orang di sekitar mereka. Toh, godaan terhadap gaya abstrak itu tampak jelas. I Nyoman Loka Suara mengedepankan Makan Mi Goreng ( 2001, akrilik di atas kanvas, 40 x 25 cm). Dia mencoba mengekspresikan wajah si pemakan mie yang entah kelaparan atau penuh tanda tanya, serta gerakan mie dari piring ke dalam mulut, bak memotret objek bergerak dengan kecepatan empat detik yang menghasilkan gambar kabur tetapi menampilkan kesan bergerak itu. Dalam melukis, efek fotografis ini dapat dicapai dengan sekali sapuan dengan kuas besar. I Gede Sukana Kariana mencoba menyiasati rahasia alam semesta dengan karyanya Mencari bintang di antara bintang (2001, mixed media di atas kanvas,, 80 x 90 cm). Dengan idiom-idiom yang biasa dipakai di dalam wacana rahasia ruang angkasa, Sukana mencoba pula menaruh teka-teki yang sebagian kecil saja sudah dijawab oleh para ahli. Made Artayasa melukiskan Jantung Hitam (2001, mixed media di atas kanvas) yang sudah terjahit di sana-sini, dan di atas latar yang hampir seluruhnya putih, tiba-tiba jantung itu mirip wajah manusia. Relasi antara jantung kehidupan dan wajah ditemukan oleh Artayasa lewat lukisan ini. Kita masih bisa berharap banyak dari ketiga pelukis muda ini untuk masa depan, asalkan mereka terus membuka diri terhadap kehidupan serta beragam gaya yang sudah diterapkan oleh para pendahulunya, dan juga berharap kelak mereka menemukan cara berekspresi yang khas mereka masing-masing.*** Other Articles:- Magical Nuance on the Combination of the Past and Present- Examining Teja and Artayasa's existential painting - Teja and Artayasa's Existensial Void - Social and Development Instability - Bagaimanakah Wajah Senirupa Kita Kini? - Dari Ubud, Lihat Wajah Inndonesia Copyright Artayasa 2008. All rights reserved. Designed and maintained by Balibagus.com
|